Kesombongan Penguasa : Kisah Tragis di Balik Bangkrut nya Nokia, Kodak & Yahoo

Kesombongan Penguasa : Kisah Tragis di Balik Bangkrut nya Nokia, Kodak & Yahoo

Kesombongan Penguasa : Kisah Tragis di Balik Bangkrut nya Nokia, Kodak & Yahoo. Menjalankan sebuah bisnis dalam bidang apapun memang tidak mudah. Di butuhkan manajemen strategi yang benar benar cespleng agar mampu bertahan di tengah sengitnya gempuran dari kompetitor. Pakar bisnis Rhenald Kasali dalam sebuah kesempatan pernah berkata :

 

” Sebuah perusahaan atau brand , mau tidak mau harus pandai memanfaatkan perubahan yang terjadi secara terus menerus agar bisa tetap bertahan “

 

Terlambat sedikit saja mengantisipasi perubahan yang terjadi, maka bersiaplah untuk sekarat dihabisi lawan. Terlebih jika bisnis itu di bidang informasi dan teknologi yang sangat dinamis,  setiap saat bermunculan inovasi inovasi baru yang menuntut kesigapan menyambutnya.

 

Lenyap karena gagap menghadapi perubahan

 

Tidak sedikit perusahaan yang mengakhiri hidupnya dengan mengenaskan dan terkubur selamanya. Siapa yang tidak mengenal brand ternama seperti Nokia , Kodak maupun Yahoo . Pada masa kejayaan nya mereka adalah raja di bidang masing masing yang sangat sulit untuk di tandingi.

 

Namun siapa yang menyangka kalau kedigdayaan mereka kini hanya tinggal cerita. Bisnis yang mereka bangun puluhan tahun itu lenyap karena gagap menghadapi perubahan. Satu hal yang bisa kita jadikan pelajaran , mereka sekarat akibat menenggak racun kesombongan dan kebanggaan saat berada di puncak kejayaan nya.

 

Menjadi penguasa di pasar telepon seluler dunia selama hampir 14 tahun lama nya, bukanlah alasan bagi Nokia untuk terus menyombongkan diri. Produsen handphone yang bermarkas di Finlandia ini akhirnya harus bertekuk lutut menghadapi gempuran para kompetitor nya yang mengusung robot hijau, Android.

 

Nokia tinggal cerita

 

Tanggal 3 September 2013 lalu , menjadi titik klimaks bagi sang CEO Jorma Ollila ketika Microsoft mengakuisisi divisi perangkat mobile Nokia senilai $ 7,2 milyar. Dan hari itu pun menjadi akhir sejarah dari sebuah bisnis yang di bangun sejak tahun 1865.

 

Di era tahun 2000 an siapa yang tidak mengakui kehebatan produk Nokia.?  Ratusan juta handphone di produksi dan di kapalkan ke seluruh dunia dan menobatkan nya menjadi produsen telepon seluler terbesar di dunia, juga perusahaan terbesar di Finlandia.

 

Ya pada masa masa indah itu,dunia di hiasai dengan puluhan tipe handphone Nokia yang amazing 🙂 Semua orang akan merasa begitu bangga nya ketika menenteng telepon genggam dengan brand Nokia. Dengan mengusung slogan Connecting People , jutaan orang di dunia ini terhubung melalui Nokia N-Gage , Communicator , 6600 , 1100 yang begitu begitu legendaris. Sebuah fakta tak terbantahkan dominasi Nokia pada saat itu.

 

Symbian memang handal , namun tampilan Android lebih atraktif

Petaka mengintip, ketika robot hijau Android yang baru lahir mulai di lirik banyak pengembang perangkat seluler karena pesona nya yang sangat menawan. Alih alih ikut terpesona , dengan angkuh nya sang raja Nokia masih bermanja manja dengan OS Symbian kebanggaan nya  dan tidak tertarik sedikit pun untuk menggunakan Android.

 

Symbian memang handal , namun tampilan Android lebih atraktif.  OS ini juga memungkinkan untuk membenamkan beragam aplikasi ke dalam nya. Sudah pasti akan memberikan pengalaman yang lebih menyenangkan bagi user. Tampak nya Nokia terlalu terbuai dengan euforia masa lalu nya, sehingga enggan untuk berubah mengikuti selera pasar.

 

Saat dunia mulai di ramaikan dengan telepon pintar yang berbasis Android, Nokia yang mulai cemas menghadapi persaingan justru melakukan kesalahan fatal dan melakukan eksperimen coba coba dengan Windows Phone. Sistem operasi yang di kembangkan dengan setengah hati oleh Microsoft ini malah semakin memperburuk keadaan.

 

Penjualan Nokia di seluruh dunia pun merosot drastis , bahkan tak tertolong meski mulai mempersenjatai beberapa produk terbaru nya dengan OS Android. Nokia terlanjur di tinggalkan penggemar nya, dan akhir nya terkapar di keroyok habis habisan oleh para kompetitor nya di bawah pimpinan Samsung.

 


Euforia kejayaan masa lalu menghancurkan Kodak

 

Dunia juga pernah mengabadikan moment tragis kejatuhan raksasa fotografi Kodak. Pabrikan asal Amerika ini sempat merajai industri perangkat fotografi dunia selama puluhan tahun dan nyaris tak terkalahkan. Dengan produk andalan seperti kamera manual , film , kertas dan bahan kimia yang berhubungan dengan kegiatan fotografi.

 

Produk kamera Kodak pernah begitu di gandrungi, terlebih setelah Neil Amstrong manusia pertama yang menginjakkan kaki nya di Bulan, membawa serta perangkat kamera Kodak untuk mendokumentasikan momen bersejarah di tahun 1969 tersebut.

 

Kekuasaan Kodak di bisnis fotografi bisa di katakan mendekati mutlak. Pada tahun 1976 , 90% penjualan rol film dan 85% kamera di Amerika Serikat dan Kanada berada dalam genggaman, seakan hanya mereka lah pemain tunggal di bisnis ini. Namun potret indah yang mereka ciptakan , perlahan memudar warna nya menjadi kusam dan hancur di makan perubahan zaman.

 

Ketika teknologi kamera manual yang masih menggunakan rol film, mulai usang dengan kehadiran kamera digital yang jauh lebih praktis, Kodak enggan untuk berbenah. Mereka merasa sayang untuk mengakhiri produksi rol film dengan alasan yang sepele. Tidak ingin dominasi mereka di ambil alih kompetitor nya.

 

Dengan congkak nya Kodak berdalih bahwa kualitas gambar yang di hasilkan kamera digital tidak akan pernah bisa menandingi kamera manual. Dan tetap kekeuh dengan pemikiran kolot yang akhirnya membunuh mereka.

 

Hal yang patut di sayangkan, karena Kodak sendiri sudah mulai mengembangkan kamera digital sejak tahun 1975. Jauh sebelum para kompetitornya melakukan nya. Namun ternyata mereka hanya sekedar main main, tanpa ada niat yang lebih serius.

 

Nama besar dan pengalaman bukanlah jaminan

Di saat para kompetitor nya seperti Nikon , Casio dan Sony sudah mulai merasakan manisnya keuntungan dari penjualan kamera digital mereka, Kodak mulai bergeming dengan merilis kamera digital nya yang di beri nama Easy Share. Produk ini sebenarnya laris manis , berkat kemudahan dalam mentransfer hasil jepretan ke perangkat penyimpanan lain seperti komputer.

 

Tapi semua sudah terlambat , teknologi yang di usung para kompetitor nya selangkah lebih maju di depan Kodak. Euforia kejayaan masa lalu berubah menjadi mimpi kelam. Kodak tidak mampu lagi menghadapi persaingan yang ganas dan akhirnya menyerah.

 

Perusahaan yang di dirikan oleh George Eastman sejak tahun 1888 itu tumbang. Kodak benar benar bangkrut di bulan Januari 2012 lalu setelah seratus tahun lebih malang melintang di bisnis fotografi. Sekali lagi nama besar dan pengalaman bukanlah jaminan , jika tidak pandai memanfaatkan perubahan jaman.

 

Keserakahan Yahoo yang berujung kematian

 

Kisah tragis yang menimpa Nokia dan Kodak juga di alami oleh Yahoo. Perusahaan ini pernah menjadi penguasa jagad internet dengan search engine andalan mereka. Meski bukan yang pertama , namun sejak di dirikan oleh Jerry Yang dan David Filo di tahun 1994, Yahoo terus merangsek dan menjadi penguasa.

 

Ketika internet mengalami booming di tahun 2000 an, Yahoo memiliki valuasi sebesar $ 125 milyar . Jumlah yang sangat besar yang di capai hanya dalam waktu 6 tahun. Kekuasaan Yahoo di masa keemasan nya bisa di samakan dengan penetrasi raja internet saat ini , Google.

 

Tahukah anda, jika pada awalnya pendiri Google , Larry Page dan Sergey Brein pernah menawarkan produk ciptaan mereka ke Yahoo hanya senilai $ 1 juta. Namun Yahoo menilai harga itu terlalu mahal dan dengan angkuh menolak nya. Mereka berpikir dengan membeli Google hanya akan merusak produk utama mereka sendiri.

 

Menjadi penguasa search engine , membuat Yahoo bisa dengan mudahnya mengeruk keuntungan dari iklan yang terpasang di halaman pencarian mereka. Mereka terbuai dan tidak punya inisiatif untuk melakukan riset pengembangan produk seperti hal nya Google.

 

Yahoo tidak mau tahu betapa pengguna nya sangat terganggu dengan banyak nya banner iklan, namun  tetap meneruskan keserakahan mereka. Harus nya mereka bisa berpikir lebih bijak , bahwa kepuasan konsumen lah yang akan menentukan mati hidupnya bisnis mereka.

 

Akuisisi Yahoo oleh Verizon

Uang yang mereka miliki bukan nya di gunakan untuk melakukan riset, namun justru di hamburkan dengan melakukan banyak akuisisi terhadap perusahaan lain. Mereka beranggapan lebih profesional di bandingkan pemilik sebelum nya. Namun kenyataan tidak seindah harapan mereka.

 

Di saat tuan besar Yahoo asyik menikmati empuknya singgasana kekuasaan, Google terus menerus menyiapkan amunisi perang untuk mengakhiri dominasi Yahoo. Empat tahun setelah penolakan yang menyakitkan itu , Yahoo mulai khawatir melihat perkembangan Google dan berniat membeli nya seharga $ 3 milyar di tahun 2002. Namun sayang nya Google yang terlanjur sakit hati dengan tegas menolak pinangan itu.

 

Pelan tapi pasti, Google dengan produk yang jauh lebih unggul mulai mengangkangi Yahoo. Para pengguna internet merasa lebih nyaman bermesraan dengan Google, sehingga Yahoo mulai kelabakan menghadapi persaingan. Dalam kondisi masuk angin seperti itu , dengan percaya diri nya Yahoo masih sempat menolak tawaran Microsoft  yang ingin membelinya $ 44,6 milyar di tahun 2008. Sang CEO Terry Semel , merasa Yahoo baik baik saja dan akan kembali memenangkan pertarungan.

 

Namun keyakinan tinggal keyakinan. Kondisi Yahoo semakin memburuk dari tahun ke tahun dan tinggal menunggu sakaratul maut. Hingga akhirnya mimpi buruk itu pun datang 28 Juli 2016 kemarin. Marissa Mayer  CEO ke 7 Yahoo dengan berat hati terpaksa meneken akuisisi Yahoo oleh Verizon yang merupakan perusahaan telekomunikasi terbesar di daratan Amerika.

 

Raksasa internet yang pada masa jayanya bernilai ratusan milyar dollar itu kini hanya di hargai $ 4,8 milyar oleh Verizon. Jumlah yang sangat banyak sih jika itu harga pembelian pabrik tahu 🙂 namun akan terasa sangat menyakitkan jika di bandingkan dengan $ 570 milyar nilai kekayaan Google yang pernah mereka campak kan.

 

Terasa menyakitkan ketika bisnis yang di bangun puluhan tahun harus kandas dan tenggelam. Kisah tragis di balik bangkrut nya Nokia, Kodak & Yahoo ini bisa menghampiri perusahaan yang lain.

 

Tunggulah kehancuran jika tidak fleksibel dalam mengikuti perkembangan jaman dan terus menerus terbuai dalam euforia kekuasaan. Semoga bisa menjadi bahan renungan buat kita semua.

 

 

 

 

 

 

 

 

3 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *