Fitur Canggih E-KTP Jadi Mainan Badut Senayan

Card Reader E-KTP

Satu lagi penyakit kronis bangsa ini kembali muncul ke permukaan. Detak nafas serasa terhenti sejenak dan berpikir separah inikah mentalitas bangsa kita. Putusnya urat malu mereka yang menyebut dirinya terhormat dan bermartabat semakin kentara ketika fitur canggih E-KTP jadi mainan badut Senayan.

 

Proyek E-KTP di gagas Kemendagri  dan mulai di garap tahun 2010-2011 dengan menghabiskan anggaran negara sebesar Rp. 5,9 triliun rupiah. Namun dalam perjalanan nya hampir separuh atau sekitar Rp. 2,3 triliun rupiah jadi bancakan para legislator dan oknum tak bermoral. Mega korupsi paling spektakuler, prestasi luar biasa rombongan badut.



Oke..sambil pura pura menikmati lelucon bancakan E-KTP yang menyedihkan ini mari kita buka halaman yang tak kalah menarik di balik kehebohan kasus yang membelitnya.

 

Di lengkapi teknik Biometrik dan Microprocessor

Sebagai proyek dengan anggaran triliunan rupiah , penerapan E-KTP sebenarnya di harapkan mampu menjadi solusi di bidang administrasi kependudukan. Bukan hanya sekedar bukti identitas pemilik nya, namun lebih dari itu. Mencontoh smart card yang di terapkan oleh banyak negara maju lain nya, di mana hanya ada satu kartu dengan database yang ter integrasi untuk berbagai keperluan.

 

Teknologi yang di gunakan E-KTP sebenarnya cukup canggih. Di lengkapi teknik biometrik yang berfungsi sebagai fitur keamanan. Biometrik merupakan terobosan baru di bidang teknologi yang mengacu pada ciri ciri fisik setiap orang yang unik dan tidak ada satu orang pun yang sama persis.

 

Proses pembuatan E-KTP di mulai dengan rekam data meliputi pemotretan wajah ( Face Recognition ), pengambilan 10 sidik jari dan pemindaian 2 iris mata yang merupakan rangkaian dari biometrik itu sendiri. Semua data itu di simpan bersama biodata pemilik dan tanda tangan digital dalam data base yang ter enskripsi.

 

Masih nyangkut soal Biometrik :

 

Di mana data pribadi itu di simpan..? Seluruh data yang ada di simpan dan di olah di Data Center Nasional, sehingga tidak akan ada data ganda dari satu orang yang sama. Database yang ada di DCN kemudian di aplikasikan pada selembar kartu yang kita sebut dengan E-KTP atau Kartu Tanda Penduduk Elektronik.

 

Ibarat sebuah komputer kecil, dalam selembar kertas itu di benamkan chip berbasis micro processor dengan memori 8 kilobyte. Micro processor itulah yang berperan sebagai otak untuk menyimpan dan melakukan proses pengolahan database pemilik nya.

E-KTP

Secara kasat mata, chip itu memang tidak terlihat karena terletak di lapisan dalam. Blangko E-KTP terdiri dari 7 lapis bahan khusus Polyethylene Terephthalate Glycol ( PET-G ) yang sangat tipis, sekitar 330 mikron.  Micro processor terletak di lapisan ke 4 atau tepat di tengah nya di lindungi lapisan lain nya.

Mubazir tanpa Card Reader

Untuk bisa membaca data yang tersimpan pada kartu sudah barang tentu di butuhkan sebuah alat untuk membacanya atau card reader. Alat ini yang akan menerjemahkan data pada kartu untuk di sinkronkan dengan database yang tersimpan di Data Center Nasional.

 

Selain menggunakan sidik jari untuk verifikasi , card reader ini juga menggunakan frekuensi radio atau di kenal dengan RFID, Radio Frequency Identification untuk membaca data yang tersimpan pada kartu. Apabila data pada kartu sesuai dengan database yang tersimpan di DCN, maka layar akan menampilkan nya.

 

Meskipun terpisah, namun E-KTP dan card reader tentu merupakan satu kesatuan yang tidak bisa di pisahkan. Tanpa adanya card reader, bagaimana mungkin database pada kartu bisa di baca. Untuk itulah setiap instansi yang membutuhkan data dari E-KTP sudah seharusnya di lengkapi dengan card reader nya.

 

Prototipe card reader ini sebenarnya telah di kembangkan bersamaan dengan peluncuran kartu. Pihak BPPT, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi sebagai pihak yang di tunjuk sudah mengenalkan card reader seharga Rp. 5 juta per unit ini melalui rapat dengan Komisi II DPR-RI tahun 2013 silam. .

 

Beberapa bank nasional seperti Danamon, Bank Permata dan Bank Syariah Mandiri sebenarnya sudah mulai menggunakan card reader ini. Namun entah kenapa pengadaan alat ini di instansi pemerintahan tidak berjalan mulus dan hilang di telan angin.

 

Mari kita berpikir dengan logika sederhana saja.  Secanggih apapun teknologi yang di usung pada E-KTP tentu akan mubazir kalo tidak di imbangi dengan sarana pembaca nya yakni card reader. Memang aneh dan lucu , bagaimana mungkin pihak yang terkait dengan proyek E-KTP ini tak berpikir ke arah situ.

 

Fotocopy merusak E-KTP.?

Dulu pernah ada larangan untuk tidak mem fotocopy E-KTP karena katanya dapat merusak data yang tersimpan di dalamnya. Benarkah demikian..?  Hasil pengujian BPPT membuktikan bahan E-KTP mampu bertahan dan bekerja dengan baik pada temperatur minus -25°  hingga 70° celcius. Sinar mesin fotocopy tidaklah sepanas itu,  jadi meski di fotocopy sampai ratusan kali data di dalam nya tetap aman aman saja.

 

Bagaimana mungkin melepaskan diri dari proses fotcopy. Untuk mengurus segala tetek bengek baik di pemerintahan maupun swasta selalu saja di minta fotocopy identitas diri sebagai kelengkapan. Kalo memang mau serius menerapkan E-KTP , ya di benahi dulu sistem nya jangan asal asalan seperti saat ini.

Andai saja para pemegang kewenangan di balik proyek E-KTP tidak bermental maling, tentu kita akan lebih di manjakan dengan E-KTP. Ambil contoh negara negara Uni Eropa yang telah jauh jauh hari menikmati kecanggihan kartu identitas kependudukan mereka.

 

Belgia merupakan negara yang pertama menerapkan teknologi ini sekitar tahun 2000 an yang kemudian di adopsi dengan cepat oleh negara Uni Eropa lain nya. Di sana kartu ini benar benar menjadi kartu sakti yang bisa di gunakan untuk segala urusan. Kartu berobat, pendidikan, ATM bahkan berlaku sebagai paspor dan sebagainya.

 

MyKad kartu sakti Malaysia

MyKad Malaysia

Tidak usah jauh jauh ke Eropa, tetangga kita saja Malaysia jauh lebih unggul dan bisa di katakan sangat berhasil menerapkan kartu penduduknya yang di kenal dengan MyKad. Setiap warga negara Malaysia yang telah berumur 12 tahun adalah pemegang wajib MyKad.

 

Pemerintah Malaysia menjadikan MyKad sebagai kartu multi fungsi yang bisa di gunakan sebagai lisensi mengemudi atau SIM, Kartu belanja, Berobat, Pendidikan dan Tarik tunai ATM yang terintegrasi dengan beberapa bank nasional. Beberapa fitur lain nya juga sedang di kaji untuk menambah kesaktian MyKad. Intinya kita tidak perlu membawa banyak kartu yang hanya membuat dompet lekas jebol, cukup satu MyKad dan segala urusan selesai.

 

Tertib administrasi menjadi kunci utama pemerintahan yang bersih. Dalam hal ini kita pantas iri pada beberapa negara yang memiliki sistem database kependudukan canggih yang terintegrasi.  Bukan hal yang berat sebenarnya, mengingat E-KTP kita pun sebenarnya juga sudah di bekali fitur canggih. Yang kita butuhkan hanya sekedar nurani dari para pelaksana terkait proyek E-KTP ini.

 

Pertanyaan nya, kapan mentalitas mereka berubah ? Untuk saat ini jelas tidak mungkin dan marilah kita bersabar sambil menikmati dagelan yang di pertontonkan badut badut senayan usai.

 

 

5 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *