Budiono Darsono dan Detik.com Di Mata Chairul Tanjung

Budiono DarsonoBudiono Darsono, begitulah nama lengkap bapak dua anak kelahiran Semarang 1 Oktober 1961 ini. Tidak banyak yang tahu jika berkat tangan dingin beliau lah Detik.com tumbuh menjadi portal berita online terbesar di Indonesia saat ini.

 

Bermula dari sebuah kegundahan, imbas dari situasi politik tanah air yang tak menentu pada masa lengsernya kekuasaan Soeharto pada tahun 1998. Saat itu Budiono Darsono adalah seorang wartawan senior yang menjadi korban PHK akibat tabloid DeTik dan juga majalah Tempo tempat nya bekerja di bredel oleh pemerintah.

 

Berita yang di sajikan majalah itu di anggap terlalu vokal dalam mengkritisi pemerintahan. Di tutup nya DeTik sebagai ladang mencari nafkah bagi Budiono Darsono, tentu menjadi sebuah pukulan berat. Kehilangan sumber nafkah satu satu nya pasti bukan perkara yang mudah.


Kegigihan Budiono Darsono Membangun Detik.com

Beruntung, Budiono Darsono bukanlah tipe orang yang gampang menyerah. Kepiawaian nya dalam mengolah berita membawa nya pada sebuah ide brilian dengan mendirikan sebuah portal berita online. Ya dinamika masyarakat dan perkembangan internet pada waktu  itu bisa di katakan sudah cukup mendukung, meski belum se masif sekarang.

 

Sebagai pencetus ide, suami dari Hana Budiono ini tidak lantas berjuang seorang diri mewujudkan mimpi nya. Bersama 3 orang teman satu profesi yang senasib sepenanggungan karena PHK, mereka saling bekerja sama berbagi tugas.

 

Sejarah Detik.com di awali dengan nama seperti Yayan Sopyan yang juga mantan wartawan DeTik, kemudian ada Abdul Rahman yang berasal dari majalah Tempo dan Didi Nugrahadi.  Tentang siapa dan apa latar belakang Didi Nugrahadi ini saya kurang begitu tahu, karena tidak banyak artikel yang mengulas tentang beliau.

 

 

Kenapa tunggu besok kalau detik ini juga anda sudah tahu informasi

Dengan bermodalkan uang patungan sebesar Rp.40 juta rupiah, maka berdiri lah portal berita online Detik.com pada tanggal 9 Juli 1998.  Pemilihan nama Detik itu sendiri berlandaskan visi menyajikan berita terbaru  secara cepat melalui artikel yang singkat dan padat. Sejalan dengan moto yang selalu di dengungkan nya, ” Kenapa tunggu besok kalau detik ini juga anda sudah tahu informasi ” .

 

Karut marut politik tahun 1998 yang di penuhi dengan hiruk pikuk demonstrasi mahasiswa besar besaran, menjadi sumber berita yang utama bagi Detik. Peristiwa tragedi Semanggi adalah artikel pertama yang di muat oleh Detik.com. Saat itu Budiono Darsono hanya berbekal Handy Talkie dan tape recorder untuk menggali sumber berita yang update.

 

Pengalaman Budiono Darsono yang telah menekuni profesi wartawan sejak usia muda sebagai kontributor Tempo wilayah Jawa Timur sejak tahun 1987 tentu menjadi modal berharga untuk membesarkan Detik.com. Di saat portal berita sejenis bertumbangan akibat gelembung dotcom pada tahun 2000 an, Detik.com masih tetap bertahan, bahkan terus tumbuh pesat hingga menjadi yang terdepan.

 

Sosok Budiono Darsono di mata Chairul Tanjung

Kehebatan Budiono Darsono ini pula yang membuatnya tetap di pertahankan sebagai CEO Detik.com, ketika raja media tanah air Chairul Tanjung membeli Detik.com. Terhitung sejak tanggal 3 Agustus 2011, Detik beralih kepemilikan dan masuk ke dalam jajaran unit bisnis milik CT Corp.

 

Melalui lobi yang alot selama dua tahun, akhirnya CT berhasil mencapai kesepakatan dengan Budiono Darsono dan pemegang saham lain nya. Harga pembelian Detik.com  oleh PT.Trans Corporation milik CT bisa di katakan sangat fantastis. Bos Trans TV itu merogeh kocek hingga US 60 Juta atau sekitar Rp. 512 Milyar dengan kurs saat itu  Rp.8.500 an per dollar AS.

 

Pembelian itu di latar belakangi ketertarikan CT pada perkembangan Detik.com yang pesat dan sosok Budiono Darsono sendiri yang di anggap berperan penting bagi Detik. Sehingga tidak heran, jika CT tetap menempatkan Budiono Darsono  sebagai CEO atau Direktur Utama, meski Detik sudah di beli nya.

 

Sepak terjang Budiono Darsono  terus berlanjut hingga tanggal 29 September 2016 kemarin. Dengan satu alasan, Budiono Darsono memutuskan pensiun dari Detik. Bukan karena permasalahan internal, namun Budiono merasa usia nya  yang tidak lagi muda dan ingin fokus pada keluarga.

 

Betapa penting nya sosok Budiono Darsono di mata Chairul Tanjung, sehingga sepeninggal Budiono, CT tidak mencari pengganti, bahkan dia sendiri yang menggantikan posisi yang di tinggalkan oleh Budiono Darsono sebagai Direktur Utama Detik.com.

 

Merajut Mimpi Baru Bersama Kumparan.com

budiono-darsono
source img : kumparan.com

Budiono Darsono boleh saja mundur dari Detik.com, namun jiwa jurnalis nya tidak pernah padam. Di masa masa tua nya sekarang ini, beliau tetap aktif sebagai aktor intelektual di balik moncer nya sebuah portal berita online yang makin populer.

 

Kamu pasti tahu Kumparan.com kan..? Nah tentu bukan hal yang mengherankan kalo pertumbuhan Kumparan bisa di bilang sangat pesat saat ini, pasalnya nama Budiono Darsono tercantum di Kumparan.com sebagai Presiden Komisaris.

 

Bersama beberapa figur penting lain nya di Detik, seperti Abdul Rahman dan Hugo Diba, mereka merintis berdirinya Kumparan.com sejak pertengahan tahun 2016. Media baru ini di harapkan turut meramaikan khasanah berita  online tanah air dengan sudut pandang yang berbeda.

 

Baca juga :

 

Kalo sudah begitu hanya tinggal menunggu waktu saja bagi Kumparan.com untuk menyusul kesuksesan Detik.com.

 

Berkaca dari perjalanan panjang Budiono Darsono itulah maka tidak ada yang  salah jika saya juga punya mimpi besar. Bukan hal yang mustahil jika suatu hari kelak terakopi.com akan menjadi media online nasional seperti halnya Detik ataupun Kumparan.

 

Masih sangat jauh memang untuk mencapai semua itu, karena saya pasti tidak ada apa apanya di bandingkan Budiono Darsono. Namun saya yakin tidak akan ada usaha yang sia sia dari seorang Slamet Widodo  dengan terakopi.com nya ini 😀 , How about you..?

 

 

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *