Bluetooth Bisa Memicu Penyakit Kanker, Benarkah Demikian.?

 Bluetooth Bisa Memicu Penyakit Kanker, Benarkah Demikian.?

Bluetooth Bisa Memicu Penyakit Kanker, Benarkah Demikian.? Bagi pengguna ponsel di era tahun 2000 an seperti saya , kehadiran fitur Bluetooth terasa begitu wah. Apalagi saat itu hanya sedikit ponsel yang di bekali fitur Bluetooth, masih banyak yang memanfaatkan infra red untuk bertukar data seperti gambar atau nada dering misalnya.

 

Seiring kehadiran Bluetooth maka peran infra red pun perlahan mulai tergantikan, dan kayaknya udah nggak kita temui lagi di ponsel jaman sekarang. Satu satunya perangkat yang masih setia menggunakan infra red apalagi kalo bukan remote control.

 

Berbeda dengan infra red yang semakin meredup, pamor Bluetooth sebagai teknologi untuk bertukar data antar perangkat semakin meluas. Tidak hanya ponsel saja, tapi hampir semua perangkat elektronik atau gadget keluaran mutakhir pasti memakai Bluetooth.



Mulai dari komputer, keyboard, mouse, speaker aktif, headset bahkan konsol game menyematkan Bluetooth untuk mempermudah pertukaran data. Hal itu juga tidak lepas dari peningkatan kualitas Bluetooth yang terus di perbarui hingga versi yang sekarang.

 

Bluetooth Bisa Memicu Penyakit Kanker, Benarkah Demikian.?

 

Seiring kepopuleran Bluetooth, muncul ketakutan akan bahaya sinar radiasi yang di pancarkan Bluetooth menyebabkan gangguan kesehatan. Hal ini di perparah oleh banyaknya isu tak mendasar yang menyebutkan penggunaan Bluetooth bisa memicu penyakit kanker, Benarkah demikian.?

 

 Bluetooth Bisa Memicu Penyakit Kanker, Benarkah Demikian.?

Seperti halnya teknologi nirkabel lain nya, Bluetooth juga menggunakan gelombang radio yang memang menimbulkan radiasi. Namun itu tidak berarti semua radiasi berbahaya, kamu tahu sinar matahari pun bisa sampai ke bumi karena adanya radiasi juga kan. Nilai radiasi sinar matahari bahkan jauh lebih besar dari radiasi yang di timbulkan Bluetooth.

 

Untuk menentukan berbahaya atau tidaknya radiasi bagi tubuh ada satu standar yang di jadikan acuan yakni Specific Absorption Rate ( SAR ).  Di Amerika Serikat sana telah di tetapkan batasan aman SAR adalah 1,6 watt per kilogram berat badan. Di atas nilai itu, radiasi baru bisa di kategorikan berbahaya bagi kesehatan manusia.

 

Ketakutan akan bahaya radiasi yang di akibatkan Bluetooth terbantahkan oleh sebuah riset yang di lakukan William G Scanlon. Peneliti dari Universitas Queen di kota Belfast ini melakukan pengujian pada sebuah modul Bluetooth dan mendapatkan nilai SAR yang sangat rendah yakni hanya 0,001 watt atau 1 mikrowatt saja.

 

Bluetooth tidaklah berbahaya

 

Hasil penelitian di atas tentu sudah bisa membuktikan bahwa penggunaan Bluetooth tidaklah berbahaya seperti mitos yang berkembang. Radiasi Bluetooth bahkan lebih kecil dari radiasi yang di pancarkan oleh ponsel itu sendiri. Penggunaan headset Bluetooth justru sangat di sarankan karena di anggap lebih aman di bandingkan headset dengan kabel.

 

Seperti kita tahu, radiasi ponsel itu jauh lebih besar dari Bluetooth. Jika kamu pakai headset Bluetooth tentu memiliki jangkauan jarak yang lebih jauh dari headset ber kabel, sehingga ada jarak aman dengan radiasi ponsel. Menggunakan Bluetooth saat mengemudikan kendaraan pastinya jauh lebih aman, karena membebaskan tangan untuk tidak memegang ponsel saat ada panggilan masuk, sehingga tangan tetap fokus memegang setir.

 

Bikin Bangga :

 

Dengan fakta di atas, keraguan untuk menggunakan Bluetooth seharusnya sudah tidak ada lagi. Kalo masih ada yang mengatakan radiasi Bluetooth bisa memicu penyakit kanker, mungkin orang itu sudah tidak butuh sinar matahari juga, tahu kan kenapa..? Eta terangkanlah… 😀

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *